Dienstag, Juli 26, 2005

Die Hochzeit

by Johann Wolfgang von Goethe

Im Dorfe war ein groß Gelag,

Man sagt', es sei ein Hochzeittag.
Ich zwängte mich in den Schenkensaal,
Da drehten die Pärchen allzumal,
Ein jedes Mädchen mit seinem Wicht;
Da gab es manch verliebt Gesicht.
Nun fragt' ich endlich nach der Braut.
Mir Einer starr in's Angesicht schaut:
"Das mögt ihr von einem Andern hören!
Wir aber tanzen ihr zu Ehren;
Wir tanzen schon drei Tag und Nacht
Und hat noch Niemand an sie gedacht."

Will Einer im Leben um sich schauen,
Dergleichen wird man ihm viel vertrauen.

The road ahead

Gewollt oder nicht, geplant oder nicht, man fragt sich oftmals, vor allem
wenn man gestrandet am Ufer des lebens steht, mit grosser Strömung und
Wirbelung oder aber auch wenn der Tag gerade windstil vor sich
heranschreitet, wieso, warum, wozu das ganze, hat es einen Sinn?
Geplagt, verängstigt, sprachlos, haltungslos, verlassend, klein, zerdrückt,
zerissend, allein.
Quo vadis?? No sé. Da ist der Schiff ohne Ruder, noch schlimmer, weit,
breites Meer ohne Leuchtturm, langer Weg wo kein Ende bzw. Abzweigungen zu
sehen ist, breite Wüste voller Sand aber dann auch nur Sand.
Da nimmt der Mut seine Grenze an, der Supermensch wird Zwerg, was dann aus
einem Zwerg? Es hieße, Leistung, gute Arbeit, voller Terminkalender, Zähne
zeigen, produktiv sein, professionell, Gefühle beiseite, Sachlichkeit
unerschüttert nach vorn, das kleine ich hinter einer Maske tragen. Der
Supermensch wird kleiner, denn es ist aus. Er ist nur Mensch, liebevoll vom
Gott geschaffen, herzlos hat er sich vom Schöpfer getrennt, um heraus
zufinden, da draußen ist es hart. Weinend versucht man den Weg gerade zu
biegen, auf die richtige Spur zurück zu kommen. Weinend??? Ein grosser Mann
weint nicht, hiess es. Es ist beschämend für Erwachsenen. Tatsächlich?? Denn es
geht ja hier um Professionalität und Sachlichkeit. Wir wollen doch auf die
richtige Spur bleiben. Da tritt er zurück, leise und vorsichtig, unbemerkend
und langsam. Um sich in dem eigenen Keller des Herzen zu verbergen,
geschützt, echt, zerbrechlich. Eben die Wahrheit. Unangenehm ... aber wahr,
bitterlich wahr.

Prediger 1:16-18:
Ich sprach in meinem Herzen: Siehe, ich bin herrlich geworden und habe
mehr Weisheit als alle, die vor mir gewesen sind zu Jerusalem, und mein Herz
hat viel gelernt und erfahren. Und ich richtete mein Herz darauf, daß ich
lernte Weisheit und erkennte Tollheit und Torheit. Ich ward aber gewahr, daß
auch dies ein Haschen nach Wind ist. Denn wo viel Weisheit ist, da ist
viel Grämen, und wer viel lernt, der muß viel leiden

1Kor. 13:13
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan
kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.
Nun aber bleiben Glaube, Hoffnung, Liebe, diese drei; aber die Liebe ist
die größte unter ihnen.

Das Alter

by Johann Wolfgang von Goethe

Das Alter ist ein höflich Mann:
Einmal übers andre klopft er an;
Aber nun sagt niemand: Herein!
Und vor der Türe will er nicht sein.
Da klinkt er auf, tritt ein so schnell,
Und nun heißts, er sei ein grober Gesell.

Montag, Juli 25, 2005

I read as I am lazy.

Baca adalah pekerjaan orang malas. Biasanya apa sih yang dibaca? Ada buku masakan, backbücher, roman, science fiction, journal scientific, sachbücher (sachlich=factual), buku sejarah, teologi, sosiologi, politik, koran, biografi, autobiografi, fachbücher (reference book) dan banyak lagi. Oh ya...tentunya gak ketinggalan buku ramalan, astrologi, feng shui, tarot dkk.
Kenapa ngebaca? Alasannya banyak, karena hobby, karena mau tau, krn butuh info, karena lagi naik pesawat/kereta lama, dan biar gak diajak ngomong ama tetangga yang gak kenal, mending baca. oh ya.. tentunya bisa juga triknya rada "busuk", karena bepergian ama teman yang kurang disukai, alhasil tamengnya itu buku, yang ini rada raffiniert dan licin. Ada juga kali yang baca krn malam mengalami gangguan tidur, ato baca karena dipaksa, ini biasanya adalah alasan student ato murid sekolah, krn klo gak baca, ujian jelek, dan klo ujian jelek kali uang saku dipotong, kena omel nyak babe etc..etc.. ato einfach klo ujian jelek malu aja (jadinya emang belajar bukan krn bahan yg dipelajarin:)).
Dalam kesemuanya itu, mungkin baca dengan tujuan gak benar, misalnya biar gak diajak ngomong ato biar ujian gak jebol dan uang saku gak kepotong, biasanya semuanya itu bisa dirangkum dalam 1 kalimat: baca karena malas. kok bisa?
iya, dengan membaca sebenarnya saya mencoba melawan waktu (sejenis "kenapa nulis?"), bergerak dengan leluasa dalam koordinat waktu ke depan maupun kebelakang (umumnya sih ke belakang, rada jarang ke depan, kalo ke depan kali futuristik dan astrologi dan fengshui ya? tapi kebenarannya ya nilai dan tanggung sendiri:)).
kenapa-nulis
Dengan ngebaca sebenarnya kita mengurangi banyak kerjaan yang gak perlu dan mencoba mencari sari2x dari hal2x yang orang lain udah buat/teliti/pikirin/alamin etc..
Bayangin aja klo tiap kali hrs masak/bikin kue, saya harus experiment dulu, kapan jadinya? keburu lapar dan tewas kali. klo kue doang masih mending, klo udah kelaparan mo makan, anaknya udah teriak2x, eh..mak nya masih experiment aja? iya sih org indo/asia jarang punya buku masakan, gak kayak jerman, yang kadang rada dodol juga (tapi sebenarnya emang lbh bagus sih klo pake buku, jadinya turun temurn gak ilang, kecuali bukunya ilang:)) tapi kayaknya tiap orang yg bikin kue pasti pake resep, ato udah diingat, gak mungkin org bikin kue asal campur aja, itu namanya nyari perkara:)
Kalo baca buku roman, fiction dan sejenisnya yang bersifat entertainmet emang gak terlalu relevan dengan tema ini. karena emang yg dicari itu entertainment, gak mulu sesuatu yang pasti ato serius.
usaha berjuang melawan waktu paling kerasa klo baca journal scientific, buku sejarah, arkeologi, biografi dan buku reference lainnya. ini asli menghemat waktu abis, gak perlu nyari sendiri, udah disiapin. jadi gak heran kan klo gua ngoong, emang baca buku itu kerjaan org malas?
gak ketinggalan baca buku ramalan (ini gak gua saranin, karena biasanya ketagihan dan jadinya gak ketauan juntrungnya). napa baca buku ramalan baca buku bintang segala ember? karena mau tau, biar gua tau sekarang, apa yg terjadi kemudian, biar gua bisa buru2x antipasi. ada satu lagi yang menarik. kadang klo baca buku gituan, pasti ada typologie-nya, sifat2x typical dari satu kategori tertentu, misalnya.. shio.. kecoak (gakl ada :)) ) itu orangnya malas mandi, bau, gak karuan, udah gitu suka terbang lagi (kecoak kali:))). Kenapa sih sebenarnya harus ada deskripsi gituan? kan klo gua org shio kecoak, gak perlu lagi dikasi tau, gua itu siapa, masa sih gua sendiri gak tau, gua itu siapa? kali juga. tapi kayaknya sih tujuan paling pentingnya itu, bukan buat gua tau, gua itu orngnya suka terbang, malas mandi, ..etc...tp biar org lain tau, jadi biar org lain bisa antipasi gua dan sejauh mungkin gak bikin salah ama org shio kecoak misalnya. ini kan menghemat waktu abis? dan juga tenaga (seandainya ramalannya benar dan seandainya kita boleh dan bisa menggantungkan diri pada ramalan). kan enak banget, klo misalnya pas mo main ke rumah bos, baca dulu shio istri dia misalnya, oo istrinya itu bintang lima, org bintang lima itu gitu dan gini, jadinya gua gak bikin salah dong. misalnya: orang bintang lima itu suka dipuji, suka diajak ngobrol, tapi klo pas ngobrol, m,ending lu diam, soalnya dia suka ngomong dan dia cuma butuh kepala yang manggut2x:)) na... klo pas kerumah bos klo emang lu bakat lecken org (ngejilat) jadi de... sukses tuh usaha. asal aja jangan ternyata istri bos itu ternyata shio kucing yang ternyata gak suka ngomong, suka kejujuran dan benci ama org yg suka lecken ... na klo gitu mah...makan deh sana buku ramalannya he....
ngebaca itu adalah kerjaan malas dari orang berhikmat. bisa dan mau belajar dari pengalaman org lain. toh gak perlu semua kesuksesan maupun kesalahan kita bikin sendiri dalam hidup ini, yang ohne hin udah cukup susah dan cukup penuh ama kegagalan (kesuksesan sih masih rada langka:)).
Selamat membaca.


Wer zu lesen versteht, besitzt den Schlüssel zu großen Taten, zu unerträumten Möglichkeiten.
Aldous Huxley (26.07.1894 - 22.11.1963)engl. Schriftsteller und Kritiker



Stehaufmännchen









Namanya Stehaufmännchen dalam bahasa Jerman (inggris: skipjack). Artinya: manusia kecil yang berdiri. Setiap orang pasti tau mainan ini, satu figur kecil, yang, kalo di goyang dikit (seluruh badan bertumpu pada satu dasar yang berbentuk setengah bola), seluruh mainan/badannya akan bergerak ke kiri dan kekanan dalam usaha untuk balik ke posisi tegak seperti semula. Sebenarnya terjemahan "manusia kecil yang berdiri" adalah terjemahan harafiah yang kurang benar, karena kurang menggambarkan keadaan/objek secara tepat. Lebih tepat adalah : manusia kecil yang berdiri lagi. kenapa? ya... karena selama digoyang/dorong kepalanya dalam batas sudut tertentu (kalo digeletakin beda lagi ceritanya) objek ini akan balik ke posisi tegaknya.
Kenapa hal ini bisa terjadi? ya.. gampang aja. karena bentuk setengah bola yang menjadi dasarnya dan badan simetris yang ada diatasnya. Seandainya titik berat satu badan terletak lumayan rendah, maka setiap posisi lain dengan titik berat yang lebih tinggi dari titik berat asal ini akan menyebabkan obyeknya tidak stabil. obyek akan kembali pada posisi "semula" dengan titik berat paling rendah.
Seandainya Stehaufmännchen di gerakkan/digoyang dalam batas sudut tertentu, dimana pada setiap posisi titik beratnya jauh lebih tinggi dari titik berat pada keadaan tegak lurus, maka otomatis objek ini akan balik ke posisi semula, yaitu keadaan tegak lurusnya. Dengan memanfaatkan sifat mechanis ini, terciptalah sebuah obyek mainan yang cukup lucu, biasanya anak2x (maupun orang gede) pada suka ama mainan ini, soalnya diatas bentuk/kaki yang setengah bola itu dihiasi lagi dengan figur lucu.
Apa relevannya? emang ini lagi mo iklanin mainan anak? he.. gak juga sih. gua belum kerja ama toys`r`us(gitu kali tulisannya ya?).
Setiap orang dalam hidup pasti punya banyak masalah dan problem, dan setiap orang pada setiap moment pasti ngerasa ato kebanyakan ngerasa, problem dia lah yang paling banyak, paling berat dan kali dia adalah orang paling kasian sedunia.
Manusia hidup gak mungkin gak pake masalah. kalo ada hidup kayak gitu bosan juga kali ya? (na ja.. obwohl... so was hätte ich doch auch gerne:))). Gimana gak bosan, semuanya ok gitu. gak ada tantangan juga dong:)
Masalah itu biasa, problem juga biasa, yang pasti itu harus kayak si Stehaufmännchen, egal apapun yang terjadi, egal digoyang kemana, usaha pertama adalah usaha buat balik ke posisi stabil. hrs bisa ngeberesin masalah dan berdiri lagi. itu yang paling penting. pertanyaannya bukan: seberapa banyak? seberapa gede? pertanyaannya, gimana beresinnya, udah diberesin belum? udah berdiri lagi belum?
Kalo cuma bisa merenung dan meratap mah sia2x juga sih ini hidup, kali 90% jadinya merenung dan meratap. sedih juga sih kalo hidup isinya cuma itu doang, ziemlich arm. harusnya egal angin apapun yang melanda, jalan terus, maju terus, pantang mundur (tapi kalo ada tembok hati2x juga sih, ntar benjol kapok sendiri lu.)
Yang pasti gua sendiri suka ama mainan Stehaufmännchen, terutama ama Botschaft dibaliknya. Selamat berjuang! dan jangan menyerah:)

Dienstag, Juli 19, 2005

kenapa nulis?

adalah pertanyaan paling mendasar (grundlegend) yang kayaknya gak pernah ato sangat jarang dibahas. people just start to write something or even anything. kayaknya orang nulis itu karena mau melawan kodrat, melawan dimensi ruang dan waktu, dan tujuan akhirnya (sering kali) adalah untuk mencapai kekekalan. kekekalan terpaksa didefinisi ulang untuk keperluan ini (asik juga ya bisa mendefinisikan kata sesuai jidat sendiri:) ). dalam hal ini kekekalan maksudnya adalah, seandainya waktu itu bisa ditarik dan elastis seperti karet, maka itulah kekekalan, jadi kekekalan gak harus kekal sampe selama2xnya, tergantung bahan ato mau nya lagi seberapa elastis, itulah jangka kekekalan, jadi kekekalan ini masih ada dalam dimensi waktu.
kenapa saya / orang nulis? karena ada dimensi waktu dan ruang yang ingin dilampaui oleh si penulis. I read as I am lazy
saya nulis email karena orang yang hendak saya tuju lagi gak disini ato lagi gak bisa ditelponin. oh .. ya.. telpon. tentunya nulis cuma salah satu dari alat yang dipake buat melawan kodrat waktu. contoh lain lagi adalah misalnya foto atau film atau alat konservasi lainnya, yang bisa menyimpan data gambar, suara etc.
saya ingin ngoong sesuatu ke orang, tp krn orgnya gak ada, terpaksa saya nulis, dengan tujuan biar orgnya pas ada bisa liat tulisan saya dan ngerti saya. tentunya dalam hal ini adalah usaha untuk berkomunikasi, tapi unsur melompati waktu tentunya juga ada, saya ingin dia tau sekarang, krn dia gak ada/gak bisa dihubungin saya nulis post it, ntar dia bisa tau. jadi saya melompati waktu dan mencpai tujuan saya dengan cara nulis post it.
contoh lain? kenapa orang nulis blog? kali ada yang menganggapnya sebagai diary. egal juga sih kalo ada yang mo nulis blog sebagai ganti diary electronic, tapi dodol juga sih sebenarnya kan klo blog itu biasanya pada bisa baca rame2x. padahal biasanya versi diary itu gak mau org klo kebaca (biasanya sih, tapi balik2x kalo gak mau kebaca ya jangan ditulis dong, namanya juga dah ditulis klo dah dah gitu mah resiko kebaca orang ada aja atuh:) egal...). kalo pun itu versi diary. kenapa tulis diary? kali ada aja yang cuma sekedar pengen mengeluarkan semuanya dan setelah keluar lega... tapi ada juga yang tujuannya biar bisa mencapai orang2x lain lewat tulisannya (kok kayaknya nobel ya?) ato ada juga yang pengen biar bisa nulis dan mungkin buat sendiri suat saat lagi dibaca, na.. kalo yang ini juga sebenarnya ingin membuat diri "kekal" melawan waktu.
kenapa nulis journal international yang scientific? tentunya mungkin karena dipaksa2x prof ato boss:) tapi sebenarnya selain biar namanya bisa terpampang kalo nama itu dimasukin ke suchbegriff di biblio ato di gbv, tentunya juga adalah usaha untuk mengkonservasi (conservation/Konservierung) diri/ide/pemikiran. itu adalah usaha melawan waktu yang paling jelas. kenapa bibliothek penuh? kenapa sekarang orang berusaha lari ke elektronik daripada buku/kertas banyak2x? krn udah gak ketampung apa yang manusia produksi, lagipula kertas bisa rusak dimakan ngengat, klo elektronik? paling juga kemakan saser:))
tentunya dibalik system biblio ada ide nobel dibelakangnya, yaitu dari segi sosiologi, biar yang lain gak perlu neliti/nyari/kerjain apa yang udah dikerjain ama kakek buyut dia dan biar kita lebih gampang dapat info. tapi tentunya ini adalah usaha untuk melawan waktu, jadinya ide/tulisan/pikiran tidak lapuk/hilang oleh waktu.
dari banyak tulisan kali yang paling berarti dan sekaligus paling gak berarti adalah tulisan aktuel mengenai tema yang berganti secara cepat dan drastis. tau maksud gua apa? koran lah. paling berarti dan penting, siapa sih yang gak baca koran? minimal baca peanuts ato mafalda ato timun-nya lah:) (komik2x di koran) ato kali ramalan bintangnya ato kolom jodoh ato kolom berita duka cita ato sejenisnya (dulu sih gua punya kebiasaan baca kolom advertising lowongnan kerja, walaupun masih sd kali ato smp dan sebenarnya gak nyari kerja...begitulah,..anak gak punya kerjaan:) ). tapi yang paling cepat masuk sampah itu apa? ya koran juga. kenapa? karena beritanya emang aktuel, tapi cuma buat hari itu kali. perang irak berlangsung berbulan2x, tapi sekarang kan di irak (min. secara offiziell) udah gak perang. aktuel, tapi karena dunia berubah cepat, jadinya koran juga paling gak bernilai, siapa yang mau baca koran kemarin kalo ada koran hari ini? tapi tentunya archiv koran adalah salah satu aset paling berharga, karena ini adlah saksi sejarah yang paling teliti dan mendetail (yang pasti sih bukan korran boulevard model pos kota ato bild zeitung-nya jerman). kalo mo tau kejadian pada hari senin tanggal 19. juni 1786, ya... nyarinya kemana? nyari archiv koran, museum koran (harusnya ada ya?:) kalo belum... harus dimulai tuh). disana ada semua ato hampir semua berita penting dan hal aktuel yang lagi hangat pada waktu itu. bener kan? sekali lagi dengan tulisan kita mencoba melawan waktu, ke depan maupun ke belakang. na ... ja.. sebenarnya sih agak2x kebelakang, toh ke depan gak bisa.. kalo ke depan namanya astrologi kali:)
ooo doch...kedepan adalah usaha untuk membuat diri/ide kekal, dan kebelakang adalah buktinya.

Senjata paling ampuh sekaligus berbahaya: bahasa/tulisan dan kemampuan rhetorik + polemik.

Man. I know my soul hath power

Man
Sir John Davies. 1569–1626

I KNOW my soul hath power to know all things,
Yet she is blind and ignorant in all:
I know I'm one of Nature's little kings,
Yet to the least and vilest things am thrall.

I know my life 's a pain and but a span;
I know my sense is mock'd in everything;
And, to conclude, I know myself a Man—
Which is a proud and yet a wretched thing.

Montag, Juli 18, 2005

Are we going to be able to talk (teach) (to) (our) children ?

Man: "Hi, what's your name?"
Mafalda: "Mafalda"
Man: "How nice. Do you go to school?"
Mafalda: "Yes, of course. Do you pay all your taxes?"
Mafalda: "He started talking about obligations."

Oftmals gilt es: Kinder (Die Frauen/Untergebene) sollen klug genug sein, damit Ihre Eltern (Männer?/der Vorgesetzte) auf sie stolz sein können, aber gerade mal so klug, dass die Eltern (Die Männer?/Vorgesetzter) sie noch belehren können.

Is Mafalda right?

Man: "Changing the world! Ha! Kids' stuff!"
Man: "I, too, had such ideas when I was young, and now you see..."
Mafalda: "We're doomed, guys! It turns out, if we don't hurry up and change the world, the world changes us!"








Untuk mengubah sesuatu dibutuhkan keberanian. Karena mengubah berarti mengganti yang biasa, yang sudah dikenal, bahkan sudah lama dikenal. Perubahan dibutuhkan karena yang tua sudah tidak berlaku atau kurang efektif atau salah.
Memulai sesuatu membutuhkan keberanian, keberanian untuk memperjuangkan.
Pertanyaannya seringkali bukan: benarkah yang diubah itu? Perlukah perubahan itu?
Tetapi: saya dapat apa, saya bakal kehilangan apa dari perubahan itu?
Mungkin Mafalda benar, tapi toh... kita semua harus dewasa (mau atau tidak) dan pada saat itu kita akan diperhadapkan pada pilihan, apakah resikonya cukup menguntungkan untuk diambil. Apalagi kalau kita bertindak tidak hanya untuk diri sendiri tetapi untuk satu komunitas tertentu, satu kelompok teman, satu keluarga (sendiri). Berani?

An die Freude

by Friedrich Schiller

Freude, schöner Götterfunken,
Tochter aus Elysium,
Wir betreten feuertrunken
Himmlische, dein Heiligtum.
Deine Zauber binden wieder,
Was der Mode Schwert geteilt;
Bettler werden Fürstenbrüder,
Wo dein sanfter Flügel weilt.

Chor
Seid umschlungen, Millionen!
Diesen Kuss der ganzen Welt!
Brüder - über'm Sternenzelt
Muss ein lieber Vater wohnen.
Wem der große Wurf gelungen,
Eines Freundes Freund zu sein;
Wer ein holdes Weib errungen,
Mische seinen Jubel ein!
Ja - wer auch nur eine Seele
Sein nennt auf dem Erdenrund!
Und wer's nie gekonnt, der stehle
Weinend sich aus diesem Bund!

Chor
Was den großen Ring bewohnet,
Huldige der Sympathie!
Zu den Sternen leitet sie,
Wo der Unbekannte thronet.
Freude trinken alle Wesen
An den Brüsten der Natur,
Alle Guten, alle Bösen
Folgen ihrer Rosenspur.
Küsse gab sie uns und Reben
Einen Freund, geprüft im Tod.
Wollust ward dem Wurm gegeben,
Und der Cherub steht vor Gott.
Chor
Ihr stürzt nieder, Millionen?
Ahndest du den Schöpfer, Welt?
Such ihn über'm Sternenzelt,
Über Sternen muss er wohnen.
Freude heißt die starke Feder
In der ewigen Natur.
Freude, Freude treibt die Räder
In der großen Weltenuhr.
Blumen lockt sie aus den Keimen,
Sonnen aus dem Firmament,
Sfären rollt sie in den Räumen,
Die des Sehers Rohr nicht kennt.
Chor
Froh, wie seine Sonnen fliegen,
Durch des Himmels prächtgen Plan,
Laufet, Brüder, eure Bahn,
Freudig wie ein Held zum Siegen.

Gutmann und Gutweib.

nicht nur zwischen mann und frau, sondern allgemein gilt es ja. kadang semuanya dikejar dan diperhitungkan, kalo gak dipermasalahkan, toh pada akhirnya kosong. pepatah cina: mundur/ngalah selangkah, laut pun menjadi lebih lebar dan langit lebih luas. Mungkinkah laut atau langit lebih lebar, lebih luas dan lebih lega?
Die Liebe ist langmütig und freundlich, die Liebe eifert nicht, die Liebe treibt nicht Mutwillen, sie bläht sich nicht auf, sie verhält sich nicht ungehörig, sie sucht nicht das Ihre, sie läßt sich nicht erbittern, sie rechnet das Böse nicht zu, sie freut sich nicht über die Ungerechtigkeit, sie freut sich aber an der Wahrheit; sie erträgt alles, sie glaubt alles, sie hofft alles, sie duldet alles.

Gutmann und Gutweib
by Johann Wolfgang von Goethe

Und morgen fällt St. Martins Fest,
Gutweib liebt ihren Mann;
Da knetet sie ihm Puddings ein
Und bäckt sie in der Pfann'.

Im Bette liegen Beide nun,
Da saus't ein wilder West;
Und Gutmann spricht zur guten Frau:
Du riegle die Thüre fest. –

Bin kaum erholt und halb erwarmt,
Wie käm' ich da zur Ruh;
Und klapperte sie einhundert Jahr,
Ich riegelte sie nicht zu.

Drauf eine Wette schlossen sie
Ganz leise sich in's Ohr:
So wer das erste Wörtlein spräch',
Der schöbe den Riegel vor.

Zwei Wandrer kommen um Mitternacht
Und wissen nicht, wo sie stehn;
Die Lampe losch, der Herd verglomm,
Zu hören ist Nichts, zu sehn.

Was ist das für ein Hexenort?
Da bricht uns die Geduld!
Doch hörten sie kein Sterbenswort,
Deß war die Thüre schuld.

Den weißen Pudding speis'ten sie,
Den schwarzen ganz vertraut.
Und Gutweib sagte sich selber viel,
Doch keine Sylbe laut.

Zu Diesem sprach der Jene dann:
Wie trocken ist mir der Hals!
Der Schrank, der klafft und geistig riecht's,
Da findet sich's allenfalls.

Ein Fläschchen Schnapps ergreif' ich da,
Das trifft sich doch geschickt!
Ich bring' es dir, du bringst es mir,
Und bald sind wir erquickt.

Doch Gutmann sprang so heftig auf
Und fuhr sie drohend an:
Bezahlen soll mit theurem Geld,
Wer mir den Schnapps verthan!

Und Gutweib sprang auch froh heran,
Drei Sprünge, als wär' sie reich:
Du, Gutmann, sprachst das erste Wort,
Nun riegle die Thüre gleich!

mau ngapain di sini?

frag ich mich selber. kali krn pada punya dan nulis, makanya gua juga ikutan. padahal sih ich gehöre nicht zu den Typen, der den anderen nachmachen, denn ich weiss ja oft, was ich mache, wieso und weshalb und warum und was dann....
Pernah gua mikirin, hmmm...idenya bagus juga, buat si itu...krn dia kan jago nulis, dari pada ntar tulisannya tersebar dimana dan gak kekumpul lagi (kan biasanya org jago yg tulisannya bermutu, setelah dia gak ada tulisannya dikumpul2xin org dan dibukuin). Nah...kalo si bapak itu ato si ibu itu yang jago nulis, kan bagus juga kalo tulisannya bisa dikumpulin ama dia sendiri, maksudnya sbelum nulis dah dikumpulin, yaitu nulisnya dalam 1 buku doang bzw. 1 blog doang, yang dia sendiri yg bisa nge-edit, jd ntar gak perlu dikumpulin. abis mikir gitu, gua mikir, na nu... und du selber? gua sih bukan org jago nulis, na...ja.. es hatte mal Zeit gegeben....waktu masih unyil (kata org bandung:))ato cilik (kata arema:)) waktu itu masih rajin dan getol nulis, ... naja nulis tingkatan bobo lah. makin gede makin males dan gak punya waktu. males? gak juga sih, nulis juga, tapi nulis yang lebih gak berarti lagi...misalnya...protokolle, studienarbeit, diplomarbeit, forschungsantrag, abschlussbericht, forschungsbericht, praktikumsbericht etc...etc... dan krönung-nya semoga....diss.
kata prof sih, kita bikin sampah (müll erzeugen), aslinya sih:) iye...kurve nulis hal2x yang jadi pikiran/pergumulan/ide2x pribadi jadinya seperti hyperbel de, semoga aja bisa stagnasi di point yang masih positiv dan bukannya null (kayaknya kalo negativ gak mungkin ya?), kan kata org jawa alon-alon asal...kelakon? (semoga gak ada yg jawa yg baca, biar klo salah gak ketangkap basah hi...)
Also...sinn und zweck der Sache ist, biar gua rajin nulis dan biar tulisan gua gak bertebaran dibanyak kertas berbagai ukuran (dr kecil mpe din a4) dirumah yang akhirnya udah gak ketauan juntrungnya dan klo gua sendiri nyari udah gak ketemu lagi. und natürlich dass ich mich ein wenig nutzlich mache, dadurch dass ich irgendwas produziere, die vielleicht für mich (na ja eher nur für mich, denn es wird evtl. auch niemand sich für diesen Müll :) interessieren). Dan jg kali jd Sammlung tulisan2x yang gua sendiri anggap schön, nutzlich, jdnya kalo mo baca lg gak perlu nge google lama2x:)
kok kayaknya anthropozentrisch, egozentrisch od. gar narziß? egal, es ist schliesslich meins. así es la vida.

Liebhaber in allen Gestalten

Liebhaber in allen Gestalten
by Johann Wolfgang von Goethe


Ich wollt´,
ich wär´ ein Fisch,
So hurtig und frisch;
Und kämst du zu angeln,
Ich würde nicht mangeln.
Ich wollt´, ich wär´ ein Fisch,
So hurtig und frisch.

Ich wollt´,
ich wäre Gold,
Dir immer im Sold;
Und tät´st du was kaufen,
Käm´ ich wieder gelaufen.
Ich wollt´,
ich wär Gold,
Dir immer im Sold.

Wär´ ich Affe
sogleich Voll neckender Streich´;
Hätt´ was dich verdrossen,
So macht´ ich dir Possen.
Wär´ ich Affe
sogleich Voll neckender Streich´.

Wär´ ich gut wie ein Schaf,
Wie der Löwe so brav;
Hätt´ Augen
wie´s Lüchschen
Und Listen wie´s Füchschen.
Wär´ ich gut wie ein Schaf,
Wie der Löwe so brav.

Was alles ich wär´,
Das gönnt´ ich dir sehr;
Mit fürstlichen Gaben,
Du sollst mich haben.
Was alles ich wär´,
Das gönnt´ ich dir sehr.

Doch bin ich,
wie ich bin,
Und nimm mich nur hin!
Willst bessre besitzen,
So laß sie dir schnitzen.
Ich bin nun,
wie ich bin:
So nimm mich nur hin!