Freitag, August 05, 2005

Coincidences

sering kali kita pakai untuk menyatakan hal-hal yang terjadi diluar perhitungan dan logika, karena seharusnya gak gitu, tapi karena satu dan lain hal (faktor x) akhirnya alur kejadian jadi berubah dan semuanya gak sesuai lagi dengan perhitungan atau rencana semula. Eistein pernah mengatakan: Gott hat nicht gewürfelt als Er die Welt geschaffen hat. Tuhan tidak menciptakan dunia dengan efek peluang, yaitu dengan menentukan hal-hal lewat lemparan dadu. Setau saya, Einstein bukan orang yang percaya Tuhan, let alone religious. Lalu, apa yang sebenarnya hendak dia kemukakan ketika dia mengeluarkan kalimat tersebut? Yang hendak dia kedepankan adalah pembelaan terhadap diri dan thesis dia, yaitu bahwa segala sesuatu ada aturannya, jadi semuanya (atau sebagian besar) bisa dihitung, disystematikkan dan diprediksi. Dia tidak lagi membela Tuhan (seandainya toh Tuhan perlu dibela oleh Einstein, sekalipun dia adalah Einstein) ketika dia mengucapkan kalimat tersebut, dia lagi menertawakan orang-orang yang belum mau diyakinkan oleh thesis dia mengena alam dan hukum-hukum alam.
Walaupun demikian, mungkin toh kalimatnya bisa agak dipermak dan menjadi pertanyaan: apakah ada kebetulan? ataukah hanya ketidakmampuan kita menganalisa (persis seperti orang-orang pada jaman Einstein yang tidak sampai dengan tingkat kemampuan mental yang dia dan beberapa orang miliki untuk mensystematikkan alam dan hukumnya) kejadian-kejadian yang ada, ketidaktahuan akan apa yang sebenarnya ada dibalik semuanya?
Kata: kebetulan waktu itu, pas banget, kebetulan jadinya... dan sejenisnya adalah phrase yang sering dikemukakan oleh sebagian besar orang. Apakah ada unsur kebetulan? (Zufälligkeit). Pertanyaan ini menimbulkan dilema, seandainya kia mengatakan ya, berarti seolah-olah dunia kita emang berfungsi seperti dadu yang terus menerus berputar, sesekali berhenti, keluar angka tertentu dan kemudian berputar lagi (entah siapa yang mutar, kapan berhenti, gimana berhentinya, dan kapan muter lagi). Dan dalam hal ini tentunya dadunya pasti bukan cuman memiliki 6 sisi, harusnya peluangnya lebih banyak lagi (wong dunia kompleks kok). Dan kalo gitu, apakah tiap orang punya satu dadu? Yang berputar dan berhenti tanpa henti sampai dia menghembuskan nafas terakhir? Kalo gitu dadunya harusnya gak berada dalam lingkup waktu, harusnya dadunya itu ada diluar koordinat waktu, karena bayangin aja, dadu muter perlu waktu, berhenti perlu waktu dan setelah itu muter lagi perlu waktu. Kalo gitu jadinya ada waktu-waktu dalam hidup kita yang vakuum karena lagi nungguin dadu? Atau emang cuma untuk hal-hal tertentu dadunya berputar, selebihnya, lebih judi lagi daripada mainan dadu?? wah.........jadi pusing he...susah juga ya kalo mau main "tuhan" tapi kemampuan gak ada. Seandainya toh kita mengatakan gak, gak ada yang kebetulan, lalu gimana berfungsinya dunia ini? Mungkin mau gak mau kita terpaksa dan dipaksa untuk mengakui ada kuasa (impersonal) atau person (personal) yang mengatur semuanya??
Atau emang gak ada yang kebetulan, cuma kita aja yang gak mampu untuk mengerti dan mensystematikkan semua yang terjadi, karena itu diluar kemampuan mental, inteligen dan jangkauan kita?
Perjalanan sejarah adalah saksi dan bukti paling sejati untuk membahas hal ini. Karena kita lagi bulan august, dan besok adalah tanggal 06.08., maka contoh yang paling akurat dan tepat tentunya adalah peristiwa pengeboman kota Hiroshima dalam perang dunia ke 2. Sebenarnya (menurut dokumen sejarah), bom yang dikembangkan di Amerika ini adalah diperuntukkan untuk negara Jerman, tapi sayang (atau untungnya?) Jerman terlebih dahulu kapitulasi, jadi gak ada alasan buat ngebom Jerman lagi, Hitler juga udah buru-buru bunuh diri, ya udah, cerita bom-boman di Eropa jadinya gak in waktu itu. Padahal sasaran semula tentunya adalah Jerman. Oh ... ya, katanya , waktu itu sebenarnya fisikawan Jerman, Werner Heissenberg dan Carl F. von Weizsäcker dikasi tugas buat ngembangin bom atom sejenis yang dipake ama Amerika, tapi Heissenberg ngomong ke militer, kalo bikin bom atom itu rada absurd, karena kompleksnya luar biasa dan juga udah gak keburu lagi make buat perang (enak juga ya, kayak ngomong, gua dah gak keburu nih bikin kue buat pesta lu, lu beli aja gih:)) ). Alasan Heissenberg ngomong ginian ke militer gak jelas, mungkin dia mau menghindari akibat pemakaian bom atom oleh militer jerman, tapi bisa jadi juga emang dia ngeliat kompleksitasnya tinggi banget, dan gak bakal siap buat perang (also pengakuan/alasan dia gak boongan). Whatever, jadinya jerman ngelepasin harapan ini buat bikin bom atom, konsentrasi bikin alat perang jadinya pindah ke yang lain.
"Kebetulan" karena jerman dah kapitulasi, jadinya amrik harus nyari mangsa baru. Yang ada waktu itu tentunya tinggal Jepang. Jepang masih juga belum kapitulasi, walaupun mrk dah ngos-ngosan perang, katanya militer ato rakyat, udah sejak 1 tahun (tahun 45, also sejak 44) gak punya beras (gimana mo perang ya??), tapi karena orang Jepang emang mentalnya rada baja dan gelo, akhirnya gak mungkin kapitulasi, karena itu adalah akhir dari muka mereka dan akhir dari kekaisaran yang mereka junjung tinggi, bagian militernya masih bersikeras, kalo mrk bisa pake mental baja buat ngadapin persenjataan militer amrik dan sekutu (bahkan keluar kalimat : ada segini millionen pasukan yang siap mati, also kamikaze. kalo ngadapin yang kamikaze kadang suka paling susah de, der /die hat/haben nix zu verlieren, nanu...). Jepang dikasi warning bolak balik, lewat konferensi potsdam, jepang dikasi warning, karena amrik tau mental jepang, akhirnya suruh jepang kapitulasi dengan kalimat yang lebih dipermak dan tuntutan yang lebih diturunin, karena toh kalo perang terus menerus, amrik+sekutu juga gak bakal untung terlalu banyak, walau akhirnya menang kali, tapi korban toh berjatuhan di dua belah pihak. Tuntutan yang lebih mild (berkurang) ini diprediksi oleh jepang sebagai bukti kelemahan, jadilah mrk semakin pd. padahal waktu itu Harry Trumann lagi siap2x ama bom atom, lagi dites dan mo dijatuhin di Jepang. Singkat cerita, setelah diwarning bolak balik, Jepang masih juga gak kapitulasi, jadilah bom jatuh di hiroshima, jumalh korban yang berjatuhan gak jelas sampai hari ini, yang pasti kotanya terhapus dalam arti yang sebenarnya. Menurut pihak amerika, jepang udah dikasi warning bolak balik tapi masih juga belum kapok, jadi harus dihajar, karena kalo gak dihajar dengan cara mematikan gini, yaitu make bom atom, jumlah korban kedua belah pihak bakalan jauh lebih tinggi lagi, dan amerika tentunya gak bersedia ngorbanin putra-putranya, kalo toh ada jalan instan make bom atom. Menurut pihak jepang: amerika itu mah sengaja, seharusnya make bom atom itu bisa dihindari, toh org jepang udah gak punya beras lagi, pasukan udah ngos-ngosan, mana bisa perang lagi. Menurut jepang, amerika cuma butuh labor real , yaitu manusia dan 1 kota buat ngetes keampuhan bom atomnya sekalian buat ngasih nunjukin ke uni sovyet (waktu itu) dan ke dunia, siapa sebenarnya yang paling kuat, dan kalo yang lain berani macam-macam, akibatnya tau de. memang pada kenyataannya ilmuwan amerika waktu itu tau, kalo bom atom itu akibatnya fatal, tapi seberapa fatal sebenarnya mrk juga gak tau, apalagi waktu itu unsur dan akibat radioaktiv belum ketahuan, mereka cuma memperhitungkan, banyak korban berjatuhan akibat bom atom ini, tapi mereka gak tau dan gak memperhitungkan akibat radioaktiv yang bakal berlanjut jauh setelah bom nya jatuh.
Saya tidak berniat bikin perdebatan politik disini, siapa sebenarnya yang benar dalam hal ini, toh semua pihak punya kepentingan masing-masing dalam satu theater dunia, dan apa yang terkatakan seringkali jauh lebih gak berarti daripada apa yang keluar lewat mulut.
Ada beberapa kebetulan yang terjadi dalam peristiwa ini, yaitu pada tanggal 06.08.1945, berdasarkan laporan beberapa korban yang sempat terselamatkan dari maut bom atom:
1. Dr. Shuntaro Hida: adalah seorang dokter medis yang bertugas di militer di Hiroshima (Hiroshima adalah pangkalan militer pada waktu itu). pada tanggal 05.08.1945 dia mendapatkan tugas untuk menemani beberapa tamu. karena menemani tamu, mau gak mau dia menemanin makan dan minum, dan akhirnya dia mabuk, pergi tidur. tengah malah, masih mabuk berat, ada orang desa dari desa sebelah yang datang gedor-gedor pintu, karena anaknya demam tinggi, dan dokter ini adalah satu-satunya dokter yang masih tersisa disana. Dokter ini masih mabuk berat dan ngantuk berat, tapi mau gak mau dia harus ikut, gak ada pilihan. jadilah dia dibonceng sepeda ama pak desa ini dan dia harus merawat anak yang demam. Besok paginya, yaitu tanggal 06.08.1945 dia terbangun, rada telat, ampir jam 08.00 dia bangun dan siap buat berangkat, karena toh udah telat, akhirnya dia meriksa anak ini sekali lagi. Bom meledak di Hiroshima sekitar 08.15 pada 06.08.1945. Waktu itu dia lagi meriksa si anak. Dia cuma sempat melihat asap yang naik, terang yang luar biasa, dan beberapa saat kemudian gelombang ledakan sampai ke desa tempat dia lagi meriksa anak dirumah org, akhirnya seluruh badan dia terlempar, namun dia tidak mengalami cidera apapun (apalagi kalau dibandingin ama orang-orang lain yang pas di kota Hiroshima).
Kebetulan, anak itu demam, jadi Dr. Shuntaro Hida harus ke desa sebelah. Apa yang terjadi seandainya dia menolak ke desa sebelah? Kebetulan, dia mabuk, jadinya dia bangunnya telat, apa yang terjadi seandainya dia sedemikian bertanggung jawab dan jam 06 udah bangun biar dia pas jam 8 di hiroshima lagi buat mengerjakan tugasnya??
2. Jepang adalah salah satu negara di dunia yang paling diskriminasi sex, laki adalah hampir tuhan kali, ce gak ada nilainya sama sekali. karena itu pada tahun 1945 masih ada kebiasaan, wanita yang bekerja di bank harus datang 30 menit sebelum bank dibuka buat ngebersihin bank, lap, bersih-bersih yang lain. sementara kolega mereka yang berjenis kelamin laki boleh datang 30 menit lebih telat daripada mereka, yaitu pas waktu bank mau dibuka. Diskriminasi gak coba??
Waktu itu Akiko Takakura baru berumur 17, bersama dengan seorang kolega wanita yang berumur 18 tahun waktu itu, mereka sedang bersih bersih bank, seperti yang mereka lakukan tiap hari. Pada waktu bom meledak, mereka lagi ada di ruang bawah tanah yang kali dibangun sejenis dengan bunker, also memberikan perlindungan khusus waktu peperangan. Alhasil dia terlepas dari maut, walaupun sebenarnya bank-nya itu ada ditengah kota Hiroshima dan jarak bank tersebut dari pusat ledakan cuma 260 m. Mungkin waktu itu ada kolega laki-laki dia yang sedang naik bus ato angkot lainnya, yang dijalanan, dan yang dijalanan kayaknya hampir gak ada yang terlepas dari maut.
Suatu kebetulan, kalo waktu itu Jepang masih diskriminasi sedemikian rupa. Suatu kebetulan kalo waktu itu pas menit dan detik itu Akiko Takakura lagi kerja di basement. Temannya tidak terlepas dari maut, bukan secara langsung dihadapkan pada maut karena ledakan, tetapi akibat dari ledakan, kalo gak salah dia ketindih ato apa gitu, karena dia gak meninggal, dia sempat naik ke permukaan dan nangis bareng akiko, setelah itu baru ketahuan ada yang gak bener dalam diri dia dan dia meninggal.
Itu hanya dua cerita kecil dari pribadi-pribadi, yang namanya gak bakalan pernah masuk ke buku sejarah serius ynag membahas soal pengeboman kota Hiroshima. Apa yang mereka alami adalah kebetulan-kebetulan yang menyebabkan mereka dapat hidup berpuluh-puluh tahun lebih panjang dibandingkan seandainya mereka tidak mengalami kebetulan - kebetulan tersebut (kedua tokoh diatas masihi hidup hingga tahun 2005, also saksi sejarah langsung yang masih hidup hingga kini).
Tentunya kalo mau cerita soal peristiwa sejarah ini, kita gak bakalan lupa dengan peristiwa 11.09.2001 dan juga peristiwa pengeboman di spanyol maupun london. Tentu disana juga terdapat banyak kebetulan-kebetulan yang telah merebut maupun menyebabkan seseorang dapat menikmati hidup lebih panjang daripada seandainya "kebetulan-kebetulan " tersebut gak pernah terjadi.
Daftar kebetulan yang "kebetulan?" bisa diperpanjang lagi, bahkan dalam hidup kita juga banyak peristiwa sedemikian ,tergantung gimana kita nge refer-nya. List-nya tentunya bisa panjang banget, saya cuma ingin memberikan dua peristiwa lagi, mengenai kebetulan ini (peristiwa ini adalah fakta):
1. Andrew adalah seorang bankir sukses yang bekerja disalah satu bank di Paris. Suatu hari dia mendapatkan permohonan ketemu dari seorang bankir lain, dari sebuah bank yang gak kalah gede dari bank tempat dia bekerja. Asumsi Andrew adalah bahwa bankir tersebut punya keinginan buat nawarin dia posisi lebih bagus di bank dia, tapi sebenarnya Andrew gak punya minat buat ganti kerjaan, toh kerjaannya yang ada selama ini masih enak. Tetapi dia tetap berjanji untuk bertemu dengan bankir ini, karena dengan demikian, pasti dalam waktu singkat akan tersebear gosip kemana-mana mengenai pertemuannya dengan bankir dari bank saingan, dan bosnya tentunya gak bakalan ketinggalan dikasi info mengenai petemuan ini, dengan demikian dia berharap untuk memperkuat posisinya di bank tempat dia bekerjja dan juga kali bonus akhir tahun dapat jadi lebih gede dikit, sebagai usah buat nahan dia di bank yang sekarang , walaupun sebenarnya dia sama skali gak punya niat piindah. also...reiin taktisch. Dia lagi buru-buru nyari metro dan ddia udah rada telat sore itu, tapi pas lagi mikirin si bankir bakalan ngomong ato nanya apa ke dia, matanya memandang sebuah mahluk menarik diseberang sana, seorang wanita bermata coklat dengan daya pikat (minimal buat Andrew) yang luar biasa. Semula si wanita tidak sadar, kalo ada secret admirer diseberang sana (mereka lagi berdiri di tempat nunggu metro/train/subway/u-bahn). Beberapa menit kemudian mata mereka bertemu, Andrew tersenyum, si wanita blushed, dan si wanita sadar. Mereka lagi dipisahkan oleh dua rel kereta, dengan arah yang berlawanan. Tepat waktu itu dua biji metro gak tau diri masuk ke statsiun dan alhasil mereka gak keliatan lagi satu sama lain. Pas waktu metronya dua biji yang gak tau diri itu udah melaju pergi, Andrew masih berdiri dengan begonya di sana, di platform tempat nunggu train. Dan diseberang sana tinggal satu mahluk yang juga masih berdiri dengan begonya. Andrew senyum lagi ke dia, dan dia ngebalas senyum.
Cerita ini benar, karena cerita ini melaju kepermukaan tepat pada waktu Andrew dan Claire merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke 10.
Coincidences? Seandainya Andrew gak telat? Seandainya peretemuan dengan bankir tersebut lebih penting, dan seandainya Andrw naik aja ke train?(dia mana tau si ce juga bakalan bego nungguin train cabut? siapa sih, yang kalo lagi buru2x bisa biarin train cabut dr depan hidung tanpa punya usaha buat masuk?) Dan si ce juga bisa aja bego nungguin di train. na ... ja... [Archer, Jeffrey: Love at First Sight, from: To Cut a Long Story Short]
2. Dalam satu perayaan di departemen di universitas, seorang anak (HIWi) ikutan, satu departemen pada makan ke restoran. karena si hiwi bego rada pemalu dan gak pd-an, lagipula dia orang asing dan gak terlalu akrab ama rekan-rekan kerja yang lain (wissenschaftliche mitarbeiter), sebenarnya dia udah mo nolak, gak mau ikutan perayaan makan-makan segitu. soalnya kan klo lagi pesta bareng, mana ada orang yangbawa buku ato bawa laptop dan sibuk sendiri? Biasanya (biasanya) kan pada ngobrol rame-rame. Si hiwi bego punya kekuatiran, karena dia org asing, ada gap bahasa yang susah diatasin, alhasil jadinya kaku banget, lagipula dia gak akrab ama orang-orang departemen (dia kerjanya cuma serabutan, apadahal mereka ketemunya tiap hari lebih dr 8 jam, seminggu 5 hari, dan udah bertahun-tahun). Tapi karena satu dan lain hal (kali karena kebetulan) si hiwi bego ngi-yain aja, undangan di terima, dan hiwi bego terpaksa harus ikutan ke pesta yaitu jalan-jalan dulu ke museum abis gitu makan ke resto itali.
di resto itali, resto-nya rada mini, also sempit, meja udah disiapin, memanjang, jadi muat sekitar 15-20 orang kali, kalo gak lebih lagi. mejanya memanjang sedemikian rupa sehingga didepan satu orang ada satu orang lagi, lalu yang lainnya duduk samping-sampingan. Karena emang sempit resto-nya dan si hiwi bego rada kurang pd, alhasil semunya udah ngambil tempat dudu, setelah ngeletakin mantel (pas winter). si hiwi bego masih aja bego berdiri di bagian pintu depan, membiarkan yang lain rame-rame nyerbu meja dan ngambil tempat duduk. Karena si prof juga udah rada tua dan gak sedinamis orang-orang muda lainnya, kali juga karena mau sopan dan membiarkan yang lain duluan, alhasil si hiwi bego hampir terakhir yang duduk, dengan prof di samping dia dan di depan dia adalah ibu sekretaris dari si prof. dapat diduga, si hiwi bego nyesel abis ikut makan, nyesel abis kenapa gak sok akrab ama kolega lainnya, biar bisa ikutan rame-rame nyerbu meja dan gak perlu duduk samping prof. makan kan lama juga, 2-3jam kali, abis gitu, si hiwi bego mau ngobrol apa ama si prof? ato ama ibu sekretaris? pokoknya si hiwi bego panik abis dan salting abis de, bayangin aja udah pemalu, gak pd-an, dapat gituan lagi. tapi jadinya gimana? si prof ternyata locker abis (nyantai), prof banyak celoteh dan tanya-tanya si hiwi soal negara dia, makanan dia etc...etc... jadinya setelah selesai makan (2-2,5 jam) si hiwi bego jadinya seolah-olah temenan baik ama si prof. si hiwi bego jadinya lega,m alah waktu pas cabut, yang lain belum cabut, hiwi bego dah ngantuk dan cabut bareng si prof, kali ini si hiwi bego gak panikan lagi, dengan wsenang hati dia cabut bareng proff dan sekretaris, sementara yang lain masih asik ngegosip sambil megangin gelas wein mereka. demikianlah ceritanya. semuanya berlalu dan gak ada yang mikirin lagi cerita pesta itu, toh itucuma satu pesta dari sekian banyka pesta yang lain, dan masih banyak pesta-pesta yang harus disiapin:)
Satu atau dua tahun setelah itu si hiwi bego udah ampir lulus sekolah dan dia (saking begonya) m,emberanikan diri buat nelpon si prof, mau nanya prospek dapat stellenangebot buat promovieren dan jadi wissenschaftliche mitarbeiter (melakukan pekerjaan riset dibawah bimbingan si prof dalam rangka ngerjain phd - programm). saking nama si hiwi bego lumayan susah dan si prof toh udah banyak kekuatiran dan masalah lainnya, jadinya si prof dah lupa ama si hiwi bego dan belum juga si hiwi bego berhasil ngomong lengkap kalimat yang udah disiapin jauh-jauh sbelumnya, profnya udah buru-buru nolak, karena hiwi bego baru bisa mulai kerja 1 tahun ato 0.5 tahun belakangan, si prof buru-buru make alasan, belum tau apa yang terjadi 1 tahun berikutnya. dasar emang si hiwi ini bego dan tebel muka, coba-coba (gimana dia juga dah lupa) ngomong ke prof tersebut, kalo dia kenal prof tersebut (ini mah gak mutahir, toh yang kenal prof tersebut banyak) dan si prof kenal dia (nah ini dia yang mutakhir). akhirnya si hiwi ngegombal, kalo sempat makan ama si prof. si prof ingat (kebetulan banget dia bisa ingat kejadian yang udah 1 tahun gitu?? padahal biasanya dia ngomong apa kemarin, besoknya juga udah lupa). si prof jadinya nada ngomongnya gak jutek lagi kayak pertamanya. nada berubah dan si hiwi bego dapat appointment buat ketemu ama prof.
pendek cerita, ternyata si prof udah ada proyek ditangan yang siap mulai, tapi prof gak mau kasi sembarang orang, klo dia gak kenal si hiwi bego, klo si hiw bego sok kenal ama yang lain, sok akrab dan buru-buru ngerebut tempat duudk, dan gak jadi dduduk disamping prof, tentunya prof gak bakalan ingat ama dia dan gak bakalan si hiwi bego dapat stelle di departemen si prof.
Na....untung juga kebetulan si hiwi itubego, tebel muka, dafür pemalu (ngombinasiinnya gimana ya??), gak pd-an dan rada-rada gelo (kayaknya kontradiksi banget ya?? Allah Hu Akbar !!!!!!!!!).
Coincidences? kali, ato lebih tepat: kitanya yang gak ngerti? Dan yang ngatur udah ada dan udah diatur?

Montag, August 01, 2005

O HAUPT, VOLL BLUT UND WUNDEN

Wörte: Paul Ger­hardt, 1656, von Ber­nard von Clair­vaux, 1153 (Sal­ve ca­put cru­en­ta­tum).
Musik: Hans L. Has­sler, 1601; Har­mo­nie von Jo­hann S. Bach, 1729.
O Haupt voll Blut und Wunden,
Voll Schmerz und voller Hohn,
O Haupt, zum Spott gebunden
Mit einer Dornenkron’,
O Haupt, sonst schön gezieret
Mit höchster Ehr’ und Zier,
Jetzt aber höchst schimpfieret;
Gegrüßet sei’st du mir!
Du edles Angesichte,
Davor sonst schrickt und scheut
Das große Weltgewichte,
Wie bist du so bespeit!
Wie bist du so erbleichet!
Wer hat dein Augenlicht,
Dem sonst kein Licht nicht gleichet,
So schändlich zugericht’t?
Die Farbe deiner Wangen,
Der roten Lippen Pracht
Ist hin und ganz vergangen;
Des blaßen Todes Macht
Hat alles hingenommen,
Hat alles hingerafft,
Und daher bist du kommen
Von deines Leibes Kraft.
Nun, was du, Herr, erduldet,
Ist alles meine Last;
Ich hab’ es selbst verschuldet,
Was du getragen hast.
Schau her, hier steh’ ich Armer,
Der Zorn verdienet hat;
Gib mir, o mein Erbarmer,
Den Anblick deiner Gnad’!
Erkenne mich, mein Hüter,
Mein Hirte, nimm mich an!
Von dir, Quell’ aller Güter,
Ist mir viel Gut’s getan.
Dein Mund hat mich gelabet
Mit Mich und süßer Kost;
Dein Geist hat mich begabet
Mit mancher Himmelslust.
Ich will hier bei dir stehen,
Verachte mich doch nicht!
Von dir will ich nicht gehen,
Wenn dir dein Herze bricht;
Wenn dein haupt wird erblaßen
Im letzten Todesstoß,
Alsdann will ich dich faßen
In meinem Arm und Schoß.
Es dient zu meinen Freuden
Und kommt mir herzlich wohl,
Wenn ich in deinem Leiden,
Mein Heil, mich finden soll.
Ach, möcht’ ich, o mein Leben,
An deinem Kreuze hier
Mein Leben von mir geben,
Wie wohl geschähe mir!
Ich danke dir von Herzen,
O Jesu, liebster Freund,
Für deines Todes Schmerzen,
Da du’s so gut gemeint.
Ach gib, daß ich mich halte
Zu dir und deiner Treu’
Und, wenn ich nun erkalte,
In dir mein Ende sei!
Wann ich einmal soll scheiden,
So scheide nicht von mir,
Wenn ich den Tod soll leiden,
So tritt du dann herfür;
Wenn mir am allerbängsten
Wird um das Herze sein,
So reiß mich aus den Ängsten
Kraft deiner Angst und Pein!
Erscheine mir zum Schilde,
Zum Trost in meinem Tod,
Und laß mich sehn dein Bilde
In deiner Kreuzesnot!
Da will ich nacht dir blicken,
Da will ich glaubensvoll
Dich fest an mein Herz drücken.
Wer so stirbt, der stirbt wohl.